Borgen, Fiksi Politik di Netflix Tontonan Anti Baper Hadapi Pemilu 2024

Sabtu, 25 Juni 2022 | 10:19 WIB   Reporter: Hasbi Maulana
Borgen, Fiksi Politik di Netflix Tontonan Anti Baper Hadapi Pemilu 2024

ILUSTRASI. Serial Borgen di Netflix


KONTAN.CO.ID - Menonton film serial Borgen di Netflix bisa menjadi pilihan cerdas untuk bersantai pada akhir pekan ini.

Film serial Borgen bisa dibilang pendidikan politik yang bermanfaat untuk menafsirkan sepak terjang para politisi setidaknya hingga dua setengah tahun mendatang.

Borgen adalah serial tentang perpolitikan di Denmark. Kata Borgen sendiri mirip dengan gabungan kata "Senayan dan Istana", sebutan untuk pusat kekuasaan di Denmark. 

Film serial 3 session plus 1 session tambahan ini bercerita tentang Birggite Nyborg (diperankan Sidse Babett Knudsen), seorang ibu sekaligus ketua partai politik yang berhasil menduduki kursi perdana menteri Denmark.

Berbeda dengan banyak film bertema politik ala Hollywood yang hampir selalu berbalut konspirasi, film ini bertema politik murni.

Penonton bisa menikmati sekaligus belajar bagaimana logika para politisi bekerja, bagaimana mereka berdebat, beradu kepentingan, berkoalisi, memelintir berita dan isu di media massa, sampai strategi cerdik menjadi partai oposisi.

Baca Juga: Doctor Strange 2 hingga Spider-Man 3 dan Venom, Film-Film Marvel Terbaru di Disney+

Film ini juga banyak menceritakan proses tawar menawar kursi menteri terjadi yang di Indonesia kerap diistilahkan politik "dagang sapi". Setelah menonton ini Anda akan memiliki gambaran apa yang mungkin terjadi setiap kali terjadi reshuffle kabinet. 

Berbumbu sedikit drama rumah tangga, keseluruhan session serial ini sarat dengan pendidikan politik. 

Bagi kita yang tinggal di Indonesia, menonton film ini akan mendapat gambaran tentang demokrasi yang mungkin berbeda dibanding apa yang kita persepsikan selama ini.

Bagi yang tertarik, silakan tonton mulai session 1 sampai session 3, setelah itu baru session tambahan Borgen Power and Glory.

Tiga session awal Borgen tamat pada 2013 silam. Ada disclaimer bahwa meski ceritanya fiktif, tapi film ini berdasar kisah perpolitikan nyata Denmark tahun 1980-an. 

Setelah menonton film ini, Anda bisa berharap tidak mudah baper menyikapi perkembangan politik tanah air setidaknya selama 2,5 tahun ke depan.

Film ini cukup menjelaskan apa yang mungkin akan terjadi pada beberapa tahun mendatang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Hasbi Maulana

Terbaru